Kamis, 25 November 2010

Muhasabah

Andai semua orang berfikir dan menyadari bahwa kita bekerja untuk mencari makan, kita makan untuk melangsungkan hidup. Kita hidup untuk beribadah, kita beribadah untuk bekal kita hidup kekal di akherat kelak. Andai semua orang berfikir seperti itu, insyaAllah kita hudup bahagia. Manusia hidup tentram. Tak ada yang diambil kecuali hanya sekedar untuk makan agar tetap bisa hidup dan hanya sekedar untuk beramal sebagai bekal hidup kekal di akherat kelak.
Banyak orang terlena dengan kenikmatan hidup di dunia dan melupakan akherat. Merugi…sungguh merugi. Memang karena itu kita tidak sadar bahwa kita telah menyia-nyiakan kesempatan kita untuk mempersiapkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan yang kekal. penyesalan baru muncul ketika sakarotul maut telah menghampiri. Padahal semua yang kita usahakan di dunia tidak akan kita bawa ke akherat kelak. Hanya amal. Dan hanya amal.
Kita tidak sadar. Kita seperti juru parkir. Berjajar mobil mewah kita jaga. Tapi apa yang kita punya ? bukan mobil-mobil mewah itu yang kita punya. Yang kita punya hanya sebatas apa yang dapat kita berikan untuk keluarga kita. Karena ketika mobil-mobil tersebut diambil oleh pemiliknya, kita harus ridho dan harus ikhlas mendapat ganti uang recehan.
Seperti itulah kehidupan kita. Harta kita, bukanlah apa yang kita jaga. Bukan apa yang kita simpan, bukan juga apa yang kita tempati. Harta kita hanya apa yang dapat kita gunakan. Yang kita sadaqahkan, yang kita infakkan di jalan Allah. Itulah harta kita yang haqiqi. Karena harta yang kita sadaqahkan, harta yang kita infakkan itulah yang nantinya kita bawa.
Selain itu, kita pasti sangat tertarik bila ada panawaran investasi dengan jaminan keuntungan 100%. Kita tertarik dan berlomba-lomba menginvestasikan uang kita pada investasi itu. Tapi sungguh lucu. Ketika Dzat yang Maha Kaya menawarkan investasi dengan jaminan keuntungan 1000%, 7000% bahkan lebih tanpa ada kerugian sedikitpun, kita enggan menginvestasikan harta kita.
Begitulah kita. Berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan di dunia, lupa akan kekayaan akherat yang kekal. Bila kita mengandai-andai, seandainya saat maut menjemput kita, ada orang yang menawarkan segunung emas untuk kita, kita pasti menolak. Pada saat itu, mungkin kita menjawab “Aku hanya ingin mencari lem untuk menyambung usiaku.”
Ya. Lem penyambung usia. Mungkin bisa jadi peluang usaha yang sangat menjanjikan. Memproduksi lem penyambung nyawa yang hampir putus. He..he… seandainya kita berhasil memproduksinya, pasti orang-orang di seluruh dunia akan berbondong-bondong membelinya walau harus memberikan seluruh hartanya sebagai ganti.
Tapi sayang. Hal itu tidak ada. Segala sesuatu telah ditetapkah bahkan sebelum zaman azali. Karena itu saudaraku, mari kita manfaatkan sisa usia kita. jangan kita sia-siakan. Jangan menunggu besok untuk melakukan amal shaleh. Karena kita tidak tahu kapan malaikat datang menjemput kita. jangan lagi terlena dengan kehidupan dunia yang sesaat. Kita di dunia hanya sekedar mengumpulkan bekal. Jangan terlena dengan kenikmatan-kenikmatan hidup. Berusahalah mengumpulkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan yang lebih kekal di akherat kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar