
Berhasil mewujudkan cita-cita untuk mempunyai sebuah usaha sendiri tentunya membawa kepuasan tersendiri bagi pemiliknya.
Apalagi jika usaha tersebut dirintis secara perlahan-lahan. Sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.
Namun itu semua semata-mata hanyalah sebuah permulaan, karena setelah resmi berdiri, langkah berikutnya adalah membina, mempertahankan, dan mengembangkan usaha tersebut. Nah, dalam melakukan itu, pemilik usaha baru akan menghadapi berbagai rintangan dan tentunya juga menghadapi sejumlah godaan.
Ada tiga godaan yang biasanya menghampiri para pemilik usaha baru terkait pengelolaan usahanya. Tiga godaan tersebut adalah: belanja barang, mendandani tempat usaha, dan ekspansi.
1. Belanja Barang
Pemilik usaha baru umumnya adalah pengusaha yang penuh dengan semangat dan optimisme. Berawal dari semangat inilah kemudian muncul keinginan untuk membeli berbagai barang, baik itu berupa alat produksi ataupun barang dagangan, dengan tujuan agar terasa “lengkap dan sempurna.”.
Keinginan seperti itu sah-sah saja, namun pemilik usaha baru acapkali malah terjebak dalam pembelian yang implusif (tanpa pemikiran lebih lanjut). Akibatnya, pemilik usaha malah jadi kurang dana, berutang, atau malah merugi, karena pemasukkan tidak sesuai dengan jumlah modal yang sudah dikeluarkan.
Belanja barang yang dilakukan semata-mata agar toko terasa lengkap/sempurna bisa jadi merupakan tindakan yang tidak rasional. Apalagi bagi sebuah usaha kecil dan rumahan.
Belanja barang tentunya menjadi sebuah keharusan dalam menjalankan roda usaha. Namun demikian, belanja barang harus selalu mengacu pada tingkat kebutuhan (prioritas). Terutama jika hal tersebut punya pengaruh besar terhadap ketahanan finansial kita.
2. Mendandani Tempat Usaha
Diakui bahwa salah satu daya tarik bagi konsumen adalah tampilan tempat usaha. Bagi pemilik usaha baru, kenyataan ini bisa menjadi inspirasi baginya untuk mendandani tempat usaha agar menjadi semenarik mungkin dengan melakukan berbagai macam perubahan.
Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, hanya kembali kita perlu ingat, seberapa besar kebutuhan mendadani tempat usaha dengan ketahanan finansial yang kita miliki?
Selain itu, mempercantik tempat usaha bisa juga menjadi bumerang. Walau tujuan kita mempercantik tempat usaha adalah untuk menarik konsumen, namun tempat yang terlihat cantik juga bisa memberi kesan mahal. Nah, apabila konsumen kita adalah para konsumen yang sensitif terhadap harga, maka tempat usaha yang cantik bisa membuat mereka enggan untuk datang.
Oleh karena itu, sebelum melakukan perubahan kosmetik yang besar pada tempat usaha kita, lakukanlah dulu perubahan yang kecil-kecil terlebih dahulu. Misalnya dengan mengecat ulang, menata ulang ruangan, dan membersihkan debu-debu yang menempel.
Mempercantik tempat usaha, dalam pandangan saya, tidak perlu yang dramatis apalagi mahal, cukup yang memberikan kesan bersih dan fungsional. Sehingga apa yang dibutuhkan konsumen dapat didapatkannya dengan mudah dan cepat.
3. Ekspansi
Pengembangan usaha merupakan langkah selanjutnya dari sebuah bisnis. Kalau boleh meminjam istilah anak sekolah, pengembangan usaha merupakan wujud “naik-kelas” nya usaha kita dan bagi setiap pemilik usaha, hal ini merupakan sebuah prestasi yang begitu membanggakan.
Bagi pemilik usaha baru, godaan untuk melebarkan sayap biasanya muncul ketika omset mulai menanjak naik dan banyak orang yang tertarik dengan bisnis yang tengah kita jalani.
Adalah keinginan yang alami jika pemilik usaha baru ingin usahanya berkembang. Hanya saja perlu kita perhatikan bahwa salah satu penyebab jatuhnya sebuah usaha adalah karena terlalu cepat berkembang (over-expansion).
Mengembangkan usaha berkaitan erat dengan fondasi finansial. Tanpa fondasi finansial (terutama ketersediaan dana cair) yang kuat, ekpansi bisnis bisa menjadi sebuah jebakan yang menggerogoti kemampuan kita dalam menjalankan roda usaha, terlebih jika modal yang kita dapat untuk ekspansi diperoleh dari hasil meminjam.
Untuk itu, sebelum melakukan ekspansi, lakukanlah berbagai perhitungan resiko dengan cermat untuk mengetahui seberapa siap dan seberapa mampukah kita dalam menghadapi skenario-skenario terburuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar